untitled

Homepage of karaeng isla

My Home on the Web.

Coto

Negara kita yang katanya sangat kaya dengan beragam budaya dan kebiasaan, termasuk beragamnya makanan pokok sampai pada makanan penutup. Misalnya dalam bahan makanan pokok kita kenal penamaan beras, mulai dari beras ‘kepala’ kampung sampai beras ‘mandi’ madu, dan yang lagi trend saat ini adalah raskin atau beras miskin (entah dari varietas apa).

Demikian pula dengan makanan lainnya, sebut saja dengan lawara’ (Makassar) lawa’ (Bugis-Palopo), Urap (Jawa) dan lain sebagainya. Sedangkan makanan yang dapat dikategorikan dengan Sup, tersebar di Nusantara ini dan tidak sedikit jenis dan namanya, mulai dari Soto Padang, Soto Sulung, Soto Batawi, Soto Madura, Coto Makassar, Kaledo. Kalau Kapurung agak sulit mengelompokkannya mengingat banyaknya ‘komponen bangsa’ yang terlibat dalam pembuatannya, sebut saja sagu, aneka sayuran, fish, poultry, beef,  maupun yang termasuk kategori game.

Salah satu jenis soup yang paling banyak di jual di Makassar (selain  sup saudara, apakah saudara kandung, saudara tiri, saudara angkat, atau saudara-saudara sekalian) adalah coto. Makanan berkuah ini sejak dahulu diklaim sebagai makanan tradisional suku Makassar. Content semangkuk coto biasanya terdiri dari hampir semua bagian dari seekor sapi atau kerbau (kecuali kulit dan tanduk, tulang serta kaki). Sedangkan ‘Leading actor’ yang bernama kuda dikenal juga sebagai bahan utama coto masyarakat Jeneponto – kabupaten yang jaraknya sekitar 70 kilometer selatan Kota Makassar.

Menurut para penikmat fanatik makanan berkuah ini, pada awalnya coto tidaklah sama dengan apa yang banyak di pasaran saat ini. Coto pada awalnya hanya terdiri dari babat sapi atau kerbau. Bumbu yang ‘terlibat’ juga tidak semeriah sekarang, yaitu hanya sereh, laos (Vietnam tidak ambil bagian), bawang merah dan putih serta kacang tanah yang disangrai kemudian ditumbuk, sedangkan H2O yang digunakan adalah air yang berasal dari ‘pencucian’ beras. Wadah yang digunakan untuk nge-boil adalah wadah yang terbuat dari tanah liat, sedangkan bahan bakarnya adalah kayu bakau. Sebagai pelengkap ditambah dengan bawang goreng dan daun seledry serta air perasan jeruk. Sambel yang digunakan adalah cabe rawit yang diulek dengan tauco lalu di-sautee. Coto disantap dengan ketupat (baik yang dibungkus dengan daun kelapa namun lebih afdhol bila disantap dengan ketupat yang dibungkus dengan daun pandan).

Saat ini coto yang banyak di pasaran sudah mulai meninggalkan ‘pakem’ aslinya, baik itu coto makassar, coto maros maupun coto bagadang. Misalnya daging yang digunakan bukan lagi daging lokal tetapi daging impor (mungkin mengikuti trend selebritis kita yang lebih senang kawin dengan ‘daging impor’). Hal ini perlu diwaspadai mengingat penyakit sapi gila masih sulit dideteksi, atau terdeteksi tetapi pedagang dagingnya pura-pura tidak tahu. Khusus untuk masyarakat muslim juga harus lebih berhati-hati, mengingat haram hukumnya bagi kaum muslim untuk memakan daging yang disembelih bukan atas nama Allah.Coto saat ini juga sudah melibatkan banyak ‘supporting actors and actress’, termasuk penggunaan bumbu yang mengandung zat kimia, misalnya MSG yang sangat besar intervensinya dalam mencoba memberikan ‘rasa lebih’ pada semangkuk coto. Termasuk bila coto disantap oleh cewek atau cowok yang sadar bahwa mereka ‘kurangmanis’, maka seringkali menambahkan kecap manis ke dalam cotonya.Untuk anda yang ingin menikmati semangkuk coto dan ketupat atau sepiring nasi, ada beberapa tips yang mungkin dapat anda gunakan :

  1. Pastikan anda mempunyai cukup dana (coto yang baik harganya dikisaran Rp.5.000 sampai Rp.9.000/mangkuk)
  2. Pilih penjual coto yang masih menggunakan wadah tanah liat dan kayu bakar untuk memasak coto
  3. Hindari coto yang menggunakan daging impor
  4. Jika anda makan coto sebelum pukul sembilan pagi, hindari babat dan sejenisnya, bisa jadi tingkat kematangannya yang kurang dapat mengikibatkan anda menderita penyakit cacingan.
  5. Hindari makan coto pada tempat yang ‘open 24 hours’. Bisa jadi dagingnya tidak segar lagi. 
  6. Mintalah kuah coto yang diambil dari bagian bawah, karena kuah bagian atas kandungan fat-nya lebih tinggi.
  7. Pastikan tekanan darah dan kadar cholesterol anda selalu dalam keadaan normal sebelum menyantap coto. Coto sangat ampuh menaikkan tekanan darah dan kadar cholesterol.

kopiku masih kental & hitam, kopimu ?….

Sabtu siang yang cerah (tepatnya terik) saya duduk berdua dengan Kiblat, seorang wartawan senior

harian Suara Pembaruan, di sebuah kedai kopi di lantai dasar Menara Makassar. Sambil menikmati

secangkir kopi toraja, (Kiblat karena lagi diet kopi maka dia pilih sari buah alpukat), perbincangan kami

nyerempet masalah pilkot Makasaar, mulai dari calon yang kurang percaya diri, calon yang sangat

percaya diri (walaupun sering okkotsz kalo ngomon…… ikutangma…), baliho ‘ka-alla’-alla’ alias aneh di

berbagai sudut kota, yang mencoba berbahasa inggris walaupun kami tau bahwa nilai TOEFL mereka

tidak bagus-bagus amat. Sampai kepada siapa kira-kira pasangan Aco bila memutuskan untuk maju lagi

dalam pemilihan wali kota.


Aco sebagai wali kota Makassar saat ini dapat dianggap sebagai calon yang paling siap, ini dilihat dari

dukungan kursi di dewan kota. Individu yang mencoba menebar pesona lewat spanduk yang

terkadang mutu design dan cetakannya memperlihatkan rendahnya selera orang tersebut (maaf, pahit

tapi ini obat bung !), masih berupaya mendulang dukungan dari koalisi partai.


Namun masalahnya bukan di situ, the point is, who is the vice major for Aco ? Apakah tandemnya nanti

sama dengan yang sekarang ? ataukah dia mencoba mencari tandem lain yang tipenya cocok dengan

trend pilkadaL (pemilihan kepala daerah Langsung). Artinya mungkin saja Aco ingin berganti pasangan

dan mencoba mencari pasangan yang kira-kira lebih ‘public figure’.


Entah kenapa, laksana sepasang kekasih yang memadu cinta seolah kami saling bisa membaca

pikiran (eitss… jangan salah sangka kami berdua mempunyai ’senjata pamungkas’ yang sama dan yang

pasti kami masih senang dan mendambakan lawan jenis senjata yang kami miliki untuk diadu atau

dicocokkan). Pikiran kami berdua tertuju pada sebuah billboard, yang terpampang di jalan Pettrani.

Poster yang memperlihatkan seorang lelaki muda tampan (ehm..) terlihat berwibawa dengan baju

kokonya…… Kenapa bukan dia yang berpasangan dengan Aco ?.


Analisa saya sederhana, Aco harus diakui mempunyai akselerasi yang sangat tinggi, tentu saja bisa

‘tersandung’ oleh kerikil kecil yang dapat menjungkalkannya ke lembah KPK, sedangkan yang ‘pria 

berbaju koko‘ adalah seorang aktivis, penasehat hukum atau ‘penyanyi’ yang lagu dan suaranya

seringkali tak ingin didengar oleh pejabat jekkong. Sungguh perpaduan yang menarik.


Sekarang terpulang kepada mereka berdua, apakah dapat saling memahami dan saling menerima

komitmen pribadi……. kita tunggu boss !


Kopiku masih kental dan hitam, kopimu ? Kopi Lih Aco dan Bram !



Lomba Narsis


Wajah Kota Daeng mulai tahun lalu sampai awal tahun 2008 ini diramaikan dengan berbagai baliho dan spanduk. Baliho dan spanduk itu rata-rata memajang wajah-wajah yang kita sudah kenal, kurang kenal, tidak dikenal dan sangat ingin dikenal.

Baliho dan spanduk itu juga bertuliskan jargon-jargon yang amat idealis, seperti save our city, we want you twice, tuwo siporennu, pengayom semua etnis, kerja sama atau gotong royong, sampai yang cukup menggelikan Si A adalah pemimpin yang 3 B, entah apa artinya, yang saya tahu 3 B itu berkaitan dengan limbah berbahaya (tapi sekarang baliho yang terpasang dekat La Tunrung / pelabuhan itu sudah dicabut).

Sebuah Baliho atau spanduk pastilah bersifat  memperkenalkan seseorang, memperkenalkan sebuah produk atau mengumumkan sesuatu. Karena bertujuan menarik perhatian khalayak maka dibuatlah se-’eye catching’ mungkin dan dipasang di lokasi yang mudah menarik perhatian.

Pertanyaannya adalah apakah baliho dan spanduk bayar pajak iklan ? Karena setahu saya kalo masang iklan di jalanan itu pastilah dikenakan biaya, ditandai dengan adanya tanda tangan pada spanduk atau baliho itu.

Anak saya yang bungsu, yang disunat tanggal 29 Desember 2007 bertepatan dengan ulang tahunnya yang kesebelas, kemudian dibuatkan acara selamatan tanggal 3 Januari 2008 bertetepatan dengan ultah Ibunya, bertanya ‘Abah, siapa kita pilih nanti ?’. Saya jawab : ” saya pilih yang bayar pajak iklan” !


Report Content · · Web Hosting · Blog · Guestbooks · Message Forums · Mailing Lists
Easiest Website Builder ever! · Build your own toolbar · Free Talking Character · Email Marketing
powered by a free webtools company bravenet.com