|
|
Homepage of karaeng islaMy Home on the Web. | ||
News |
4 dan 45Seperti biasa, ritual pagi adalah nyeruput kopi, menggigit penganan sambil berteriak meminta kaca mata baca pada orang rumah, mengambil tribun yang jatuh di sela motor dekat pintu rumah, kemudian duduk dekat meja kecil. Membaca. Hari ini, Sabtu 9 Februari 2008, koran di tangan saya genap berusia 4 tahun dan saya juga telah empat tahun menjadi pembacanya. Koran yang pada awalnya mengusung tag line spirit baru Makassar kini telah berubah menjadi ‘pemimpin baru’. Ya, dalam usianya yang masih balita, koran ini seolah menjadi trend setter bagi bacaan sejenisnya di kota daeng ini. Koran daerah inilah yang pertama kali memperkenalkan tata cara fotografi yang yang lebih ‘nyeni’ dengan sentuhan teknologi kamera canggih yang digunakan oleh fotografer sekelas Ocha Alim, Abbas Sandji atau Yusuf Ahmad (di mana engkau kini ?). Tribun Timur mampu meramu dan menyatukan politik, peristiwa, ekonomi, olah raga, seni dan social activities lainnya dalam sebuah kemasan yang tidak membuat kita ribet jika membacanya (menurut istilah Abdul Haris Boegis ‘beranatomi campact edition’) walaupun terkadang padatnya iklan seolah mengurangi informasi yang ditampilkannya. Hal lain yang membedakan koran ini dengan yang lain, artikel tentang hiburan dan penghibur, selama ini gossip hanyalah milik media televisi namun Tribun berhasil mengemasnya menjadi sebuah berita singkat yang memikat. Terobosan terakhir yang mereka lakukan adalah menjadikan Koran mereka sebagai Koran real time pertama di luar Jakarta, suatu prestasi yang tidak kecil karena membutuhkan kecepatan dan keakuratan dalam pelaporan dan pemuatan. Inovasi Tribun Timur ini apabila diikuti oleh koran-koran terbitan daerah lainnya semakin memantapkan posisinya pada tag line ‘pemimpin baru’. Sama juga dengan ‘pemimpin baru’ lainnya, terkadang koran ini juga ‘okkotszsz’ dalam menulis berita, baik kekurangan, kelebihan, maupun kesalahan huruf, bahkan terkadang salah sambung atau tidak ada sambungannya sama sekali, belum lagi ditambah dengan keterangan foto yang kelihatan bahwa, peruntukan foto itu dipaksanakan karena mungkin sudah kekurangan foto atau lagi malas mencari foto. Hm….. hari ini juga saya genap 45 tahun, sebuah usia yang tidak lagi muda, usia yang sudah lewat lima tahun bagi penganut life begin at 40’s, usia di mana seorang Lelaki berada pada puncak kariernya. Namun yang saya amati, tidak ada perubahan berarti dalam karier saya sebagai seorang guru, instruktur, dosen atau apapun namanya. Saya masih setia ke kantor dengan vespa butut saya, saya masih setia dengan gaya saya yang terkadang meledak-ledak, mengejek bahkan mencaci jika emosi tak terbendung. Saya masih setia kepada rokok dan kopi, begadang hingga larut sehingga sholat subuh lebih mirip sholat dhuha bila dilihat dari waktunya. Saya juga masih setia dengan gaya berpakaian yang menurut saya casual tapi menurut orang lain urakan. Saya masih setia sebagai penikmat televisi, mulai dari siaran swasta nasional, travel & living, National geographic, asian food channel, CNN, Al Jazeera, HBO bahkan sesekali ngintip mode atau modelnya di fashion TV. Saya juga masih cenderung setia kepada prinsip let’s the life flow like a river, sebuah ungkapan atau pembenaran bagi orang-orang yang malas berinovasi atau tidak kreatif semacam saya. Saya tidak punya keinginan yang muluk-muluk, satu-satunya keinginan saya dalam hidup ini adalah ‘menyesuaikan diri dengan perubahan’, karena Oom Darwin bilang yang dapat bertahan ‘hidup’ hanyalah yang mampu menyikapi atau menyesuaikan diri dengan perubahan. |
Navigation Services |
Indonesia![]() |
bravenet.com